Ekonomi

Rupiah Sah Menguat 3 hari Paten

Nilai tukar rupiah dengan dolar Amerika Serikat (AS) menguat 3 hari beruntun dalam perdagangan pasar spot. Pada Selasa (19/03/19), Rupiah menguat 0,07% di harga Rp14.225 dibandingkan hari sebelumnya.

Rupiah masih bisa bertahan di zona hijau saat pembukaan pasar yang menguat 0.18%, sebelumnya rupiah juga pernah menguat pada 22-36 Februari 2019.

Penguatan rupiah ini terjadi karena Dolar AS masih tertekan, para investor juga menjauhi dolar AS sampai rapat bulanan komite pengambil kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserves/The Fed.

Peluang kenaikan usku bungan acuan yang semakin samar membuat dolar AS jadi kurang rapih. Setelahnya, banyak investor yang keluar dari dolar AS dan aliran modal menyebar ke segala penjuru termasuk ke Indonesia. Investor asing juga masuk ke Bursa Efek Indonesia dan mencatat beli bersih Rp 170, 35 Miliar.

 

Dolar AS vs Mata Uang Asia

Mata Uang Kurs Terakhir Perubahan (%)
 USD/CNY  6.714 0.02
 USD/HKD  7.850 0.00
 USD/IDR  14,225.000 -0.07
 USD/INR  68.850 0.34
 USD/JPY  111.290 -0.12
 USD/KRW  1,129.050 -0.22
 USD/MYR  4.072 -0.10
 USD/PHP  52.865 0.33
 USD/SGD  1.351 -0.01
 USD/THB  31.660 -0.09
 USD/TWD  30.792 0.08

Ekonomi Dunia Melambat di 2019, Bagaimana dengan RI Bu Sri Mulyani?

penulis: Guruh Hermawan

Tangerang – Ekonomi global tahun ini diprediksi mengalami perlambatan. Hal ini terjadi akibat sejumlah negara besar menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan pelemahan ekonomi dunia memang akan terjadi. Menurut dia hal tersebut sudah diproyeksi sejak beberapa waktu lalu. 

“Sebetulnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang mengalami pelemahan itu sudah di-warning sejak tahun lalu. Terutama pada kuartal terakhir,” kata Sri Mulyani di kawasan BSD, Selasa (12/3/2019).

Dia menjelaskan hal tersebut akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, jika Indonesia ingin mencapai pertumbuhan yang tetap tinggi dan di atas 5% harus mampu meyakinkan bahwa pusat-pusat atau sumber pertumbuhan di dalam negeri tetap bisa menjadi mesin yang mendorong.

“Itu adalah investasi, konsumsi, government spending dan semuanya harus mampu menjalankan fungsinya,” ujar Sri Mulyani.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan yang harus diperhatikan adalah ekspor Indonesia ke negara mitra dagang. Memang, saat ini Indonesia juga akan terdampak pelemahan ekonomi China dan India. 

Namun negara lain seperti Filipina, Bangladesh hingga Pakistan mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Sehingga ada populasi dan pasar yang cukup besar.

“Jadi Indonesia harus tetap mampu untuk menjaga momentum untuk pendorong ekonomi, kita juga akan tetap menjaga agar ekspor meningkat. Kalau untuk impor kita bisa menahan dengan kebijakan B20, maka dari sisi eksternal balance negatifnya jadi lebih kecil,” jelas dia.

Sri Mulyani menambahkan, dengan demikian pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap ditingkatkan. Namun kondisi ekonomi Indonesia kuartal I tahun ini cukup baik jika dilihat dari indikator indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi yang rendah, ini mencerminkan harga cukup stabil, konsumsi tetap terjaga di kisaran 5%. Hal ini membuat momentum pertumbuhan diprediksi bisa di atas 5%. 

Sementara itu untuk investasi pada 2018 memang masih di bawah 7%. Dia optimis pertumbuhan tahun ini bisa lebih baik, karena perbankan nasional sudah memiliki keuntungan yang baik, pertumbuhan kredit yang positif dan di atas double digit.

Selanjutnya kapitalisasi di pasar saham juga sudah cukup besar. Dia mengharapkan initial public offering (IPO) yang dilakukan perusahaan tetap terjadi. 

“Selain itu pemerintah juga akan tetap berbagi upaya investasi dan melibatkan swasta. Sehingga private investment tetap terjaga, selain pemerintah akan menjaga capital spending maupun belanja barang hingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” jelas dia.

editor: Rahmawati

sumber: CNBC Indonesia

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4463857/ekonomi-dunia-melambat-di-2019-bagaimana-dengan-ri-bu-sri-mulyani


Penutupan Pasar: Rupiah Menguat ke Rp 14.260/US$

penulis: Guruh Hermawan

Jakarta, CNBC Indonesia –Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Namun dolar AS masih berada di level Rp 14.200. 

Pada Selasa (12/3/2018), US$ 1 dibanderol Rp 14.260 kala penutupan pasar spot. Rupiah menguat 0,18% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Baca:Sip, Rupiah Sepertinya Bisa Menguat Hari Ini!

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 15:56 WIB:

PeriodeKurs
1 PekanRp 14.260
1 BulanRp 14.310
2 BulanRp 14.370
3 BulanRp 14.433
6 BulanRp 14.630
9 BulanRp 14.785
1 TahunRp 14.970
2 TahunRp 15.685

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pukul 15:50 WIB: 

PeriodeKurs
1 BulanRp 14.300
3 BulanRp 14.414

Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 14:51 WIB:

BankHarga BeliHarga Jual
Bank BNIRp 14.070Rp 14.320
Bank BRIRp 14.175Rp 14.315
Bank MandiriRp 14.070Rp 14.320
Bank BTNRp 14.175Rp 14.325
Bank BCARp 14.138Rp 14.438
CIMB NiagaRp 14.140Rp 14.350

editor: Rahmawati

Sumber: CNBC Indonesia

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190312155245-17-60174/penutupan-pasar-rupiah-menguat-ke-rp-14260-us-

Diselamatkan Damai Dagang, Bursa Saham Asia Kembali Menghijau

penulis: Guruh Hermawan

Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham utama kawasan Asia mengakhiri hari di zona hijau, melanjutkan penguatan yang sudah dibukukan pada perdagangan kemarin (11/3/2019): indeks Nikkei melejit 1,79%, indeks Shanghai menguat 1,1%, indeks Hang Seng melesat 1,46%, indeks Straits Times naik 0,65%, dan indeks Kospi terapresiasi 0,89%.

Data ekonomi China yang mengecewakan tak mampu memadamkan minat investor untuk kembali melakukan aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Sepanjang bulan Februari, penjualan mobil di Negeri Panda tercatat anjlok hingga 13,8% secara tahunan, seperti dilansir dari Trading Economics. Penurunan tersebut merupakan yang kedelapan secara berturut-turut.

Membuncahnya optimisme terkait damai dagang AS-China membuat investor melupakan data ekonomi yang mengecewakan tersebut. Xinhua News Agency melaporkan bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He berbincang melalui sambungan telepon dengan perwakilan AS pada hari ini guna mendiskusikan negosiasi dagang lanjutan kedua negara, seperti dilansir dari Bloomberg.

Dalam perbincangannya dengan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Liu juga melakukan perbincangan mengenai penulisan kesepakatan dagang kedua negara.

Pemberitaan tersebut lantas mengonfirmasi bahwa kedua negara terus melakukan perbincangan secara intens untuk mencoba mengakhiri perang dagang yang sudah berbulan-bulan terjadi.

Sebelumnya, Beijing menegaskan pihaknya bekerja siang dan malam demi terciptanya kesepakatan dagang dengan AS. Bahkan, China sudah mulai bicara soal menghapus pengenaan bea masuk.

“Bea masuk menurunkan kepercayaan investor dan membuat korporasi menunda investasinya. Sekarang, kedua pihak bekerja keras untuk mencapai kesepakatan. Semua itu bertujuan untuk menghapus bea masuk sehingga perdagangan AS-China menjadi normal kembali,” jelas Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen, mengutip Reuters.

editor: Rahmawati

Sumber: CNBC Indonesia

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190312180112-17-60235/diselamatkan-damai-dagang-bursa-saham-asia-kembali-menghijau

UBS Ramal Ekonomi RI Hanya bisa tumbuh 5% Pada 2019

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan jasa keuangan asal Swiss, UBS memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2019 akan tumbuh di level 5%. Lebih ndah capaian tahun 2018 sebesar 5,17%.

UBS menyebutkan, faktor yang menyebabkan ekonomi Indonesia tumbuh di level 5%, diantaranya ekspor Indonesia dinilai belum menggembirakan, dampak kenaikan bunga di tahun lalu oleh Bank Indonesia mengereksebanyak 175 basis poin ke level 6% dan investasi yang diperkirakan akan tumbuh moderat tahun ini.

Dalam jumpa pers saat acara UBS Indonesia Conference di Mandarin Hotel, Jakarta, Edward Theater, Senior ASEAN Economist UBS Investment Bank menyakini, ekonomi Indonesia diperkirakan dapat tumbuh 5%, defisit neraca berjalan diperkirakan akan menyusul dari sebelumnya 3% terhadap Produk Domestik Bruto di 2018 menjadi 2,6%.

Edward menambahkan, Indonesia juga dinilai cukup punya daya tahan terhadap risiko pengetatan kondisi pasar keuangan global yang timbul dari ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. “Indonesia seharusnya tidak terlalu terpengaruholeh ketegangan perdagangan daripada yang dialami oleh negara di ASEAN,” kata Edward.

Dengan kondisi ekonomi dalam negeri yang stabil, Edward mendukung penguatan nilai tukar Rupiah dan mengurangi imbal hasil obligasi tahun ini. Namun, Edward tetap memberikan catatan, ada kemungkinan risiko yang harus di hadapi, harga minyak mentah dunia diperkirakan akan kembali naik.

penulis : Guruh Hermawan

Editor: Rahmawati

Sumber: CNBC Indonesia

https://www.cnbcindonesia.com/market/20190305171741-17-59045/ubs-ramal-ekonomi-ri-hanya-bisa-tumbuh-di-5-pada-2019

Pandangan Ekonom Tentang Turunnya Harga Ayam

Jakarta– Penurunan harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di beberapa daerah sejak bulan Februari 2019 memancing komentar paara akademisi. Salah satunyadari pengamat ekonomi jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM),Defiyan Cori.

Menurutnya,ada kementerian yang belum menjalankan fungsi dan tugasnya secara maksimal. “Undang-undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara sudah jelas mengatur apa saja fungsi dan tugas semua kementerian di negara kita. Misalnya Kementerian Pertanian, tugas pokoknya jelas menangani produksi pangan, sedangkan Kementerian Perdagangan mengurus terkait perdagangan dan harga balik di tingkat petani maupun konsumen,” sebut Defiyan.

            Lebih lanjut, defiyan meyayangkanadanya pihak-pihak yang menuding pemerintah dan menyebutkan penurunan harga disebabkan karena pasokan yang berlebih. Kelebihan produksi daging ayam saatini harusnya ditanggapi dengan positif.

“Inikan sebenarnya Positif, Pemerintah telah mampu mendukung peningkatan produksi daging ayam di dalam negeri.. daripada produksi kita kurang. Nanti jatuhnyaakan impor lagi,” ujarnya.

Untuk mengatasi kelebihan produksi unggas, Defiyan meminta Kementerian Perdagangan untuk terus membuka peluang ekspor unggas maupun produk turunannya ke berbagai negara. “Nah ini kan harusnya menjadi tanggung jawab Kementerian Perdagangan untuk terus mendorong ekspor, melalui atase perdagangannya yang ditugaskan dibeberapa negara,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Defiyan Cori mengatakan bahwa daging ayam berdasarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 merupakan satu diantara jenis bahan pangan pokok yang perlu dijaga ketersediaan dan stabilisasi harganya.

penulis : Guruh Hermawan

Editor: Rahmawati

Sumber: detik.com

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4454697/pandangan-ekonom-tentang-turunnya-harga-ayam

Semangat,Rupiah Sedikit Lagi Bisa Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang masih melemah. Namun pelemahan rupiah semakin tipis. Pada selasa (5/3) pukul 14:00, US$ 1 dibanderol Rp 14.145. Rupiah melemah 0.07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sebelumnya,berita soal proyeksi pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi pemberat laju pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia. Pasalnya, pemerintah China memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2019 hanya 6 sampai 6,5%.

Dari kepala kantor riset dewan negara China, Huang Shouhong menyatakan mengeri tirai bambu hanya butuh pertumbuhan ekonomi 6,2% pada 2019 dan 2020 untuk mencapai target membuat produk Domestik Bruto naik dua kali lipat pada 2020.

Kabar ini membuat para pelaku pasar menjadi lega. Tidak ada kekhawatiran bahwa pelambatan ekonomi China akan membawa dampak yang signifikan. Memang ada dampak negatif, tetapi masih terukur sepanjang tidak terjadi hard landing.

Penulis: Guruh Hermawan

Editor: Rahmawati

Sumber: CNBC Indonesia
https://www.cnbcindonesia.com/market/20190305142235-17-58981/semangat-rupiah-sedikit-lagi-bisa-menguat-lho